Berbicara tentang jarak dan waktu, membuat saya teringat perpisahan kita di minggu pagi itu.
hari itu adalah hari terakhir saya merasakan hangatnya pelukan anda walau hanya beberapa detik. saat itu kita masih kaku untuk berlama-lama dalam nikmatnya sentuhan.
Saya yang dulu, begitu yakin dengan pulangmu suatu hari nanti. tidak ada selintas curiga dalam benak saya yang mengatakan bahwa kau tidak akan kembali lagi dalam genggamanku. saat itu, yang saya pikirkan adalah kapan saya akan menunggumu kembali di bandara. sebegitu percayanya aku dengan kepulanganmu.
namun apa daya?
yang kini terjadi adalah kita tidak lebih dari sepasang pengecut waktu dan jarak. Anda yang tidak kuasa menahan rindu, memilih untuk mengakhiri cerita dari sana. Anda pergi di saat saya sedang semangat-semangatnya bertahan dan membuat saya merasa hingga hari ini, masih ada hal yang belum terselesaikan;
sebuah pertemuan.
Anda memilih untuk menyerah di saat saya sedang erat-eratnya menutup mata untuk tidak membaca kata itu. hingga akhirnya anda tinggalkan saya dengan cinta yang begitu hebat dan rindu yang tak dapat dipadamkan, pula kecewa yang tak dapat terbendungkan.
tapi tak apa, kurasa, kita memang punya hak untuk berhenti menyakiti diri sendiri— setidaknya itulah yang kutahu; bahwa merindukanku sama dengan menusuk dadamu.
Saya terlalu lugu saat itu untuk sadar bahwa jarak dan waktu nyatanya mampu meruntuhkan kedua insan yang sedang bertahan untuk tidak saling melepaskan.
ironis, bukan? tidak bisa berbuat apa-apa di saat keduanya sedang dibalut rindu— selain do'a yang terpanjatkan sepanjang hari. namun do'a adalah do'a dan yang kita butuhkan saat itu hanyalah selintas temu. ratus-ribu kilometer di antara kita, sejujurnya tidak pernah membuatku merasa jauh darimu karena aku mencintaimu tak berjarak.
ya, saya tahu. hanya memiliki cinta memang tidak akan pernah cukup, 'kan?
izinkan saya mengatakan "saya lelah berpura-pura tidak lagi mencintaimu."
Saya juga lelah menahan rindu namun mengapa saya tidak bisa menyerah juga seperti anda?
malam ini, di sini—
Saya masih menunggu anda pulang.
walau saya tahu kau sedang sibuk-sibuknya membangun rumah di sana—
bersamanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar