Senin, 10 Juni 2019

Kata adalah kita

Syair-syair yang randau
bagai peluk hangat
beberapa bunga di pangkal tanah
seperti sebiji doa yang memekar
kau semai dengan senyum tanpa tenun
hanyalah sebuah ketulusan sebuah air mata tanpa alasan

Tatkala pudar beberapa kiasan—tertinggal sebait puisi yang telanjang
seperti teduh bulan di langit merah tanpa penyesalan
semanis ucapanmu sepeluk dekap pertemuan

Kata-kata tak pernah menjadi siapa pun
hanyalah abjad-abjad penuh mantra
sebuah angan dan ingin
dalam reda dan dera yang redam 

Kala kita mengucap hagia
sesederhana tangisan
mengalir hingga sembab
atau menerus dan memakna
menjadi hujan—atau badai sekalipun

Seperti katamu
tiada rupa paling purna
hanyalah karsa penelisik jawab
tiada perih paling lirih
hanyalah sepi dalam riuh diam-diam

Kita tak pernah pandai berkata-kata
hanyalah menjadi-jadi sebuah doa dalam mimpi
ketidakpastian yang terus diutarakan

Dalam ungkapan-ungkapan
bahkan rahasia segala umpatan
perihal dirimu dan diriku dalam bungkam bibir yang beku

Sediam ciumanmu
pada kata-kata
yang mati sebagai kita
dan kita menjelma angan-angan
suci dalam keterbatasan

Sedu sedih
tenang tentram
lirih dan lara
kata-kata tak lagi ada
ia menjelma kita

Surabaya Di Ujung Pena

Kamis, 28 Februari 2019

RUMAH

Ketika dalam benak hatimu dapat rasakan kentalnya rasa dekat; hingga semua rindumu terpusat disana, ialah rumah. Tempat teraman nan juga nyaman, tempat berpulang setelah menerjang, tempat untuk mengobati hati.

Tertulis sudah sajak perihal rumah ini, agar apa yang terjadi terkenang abadi. Sebagai tanda, bahwa saya disini. Bahwa saya pernah merasa kembali, dan saya tahu bagaimana cara terobati.

Lewat sudah ribuan meter saya berkelana, lewat sudah ribuan detik saya memetik ilmu, lewat ribuan hari, telah kusadari bahwa saya sendiri. Tapi satu yang tak pernah berpindah, adalah rumah.

Maka dari itu saya pulang. Pulang dari rumah satu ke rumah yang lain. Entah itu berpulang ke tatapan mata seseorang, rumah usang yang ada di ujung jalan, atau ke diri masing - masing. Intinya saya pulang.

Tak perduli seperti apa kau menganggap rumah itu, punya atau tidak, sepi atau ramai, dingin atau hangat, kecil atau besar, hidup atau mati, dekat atau jauh, nyata atau hanya imaji. Siapapun kau berhak untuk merasakan yang namanya 'pulang'.

Senin, 25 Februari 2019

Tentang Akhir

Ketika saya jatuh cinta hati saya mulai dilanda ribuan pertanyaan. Apakah anda benar-benar dikirim oleh semesta untuk menjadi tokoh utama atau hanya sebuah nama yang tidak akan lagi saya temukan di bab selajutnya. 

Rupanya semesta memunculkan teka-teki, mungkin semesta yang senang mengajakku bercanda, mungkin selera humornya tinggi. Kenapa bisa saya bilang begitu, karena anda adalah alasannya. Anda dikirim semesta untuk melengkapi ceritaku, anda datang dengan sangat berani mencuri hati saya. Anda tau, hati yang anda curi itu sebenarnya sudah tidak seindah yang anda lihat. Ia mudah rapuh, mudah hancur bahkan kondisinya rusak parah.

Dan ketika anda berhasil menjadi tokoh utama diceritaku, saya kira kita akan selalu bersama sampai cerita itu menemukan akhir bahagia, tapi saya salah mengira. Karena di bab selanjutnya tak lagi saya temukan namamu berjarak satu spasi denganku.

Ada apa dengan cerita kita, saya yakin pasti ini adalah salah satu lelucon yang semesta buat. Tapi saya sedang tidak ingin bercanda kali ini. Sudah cukup, perasaanku sudah tidak bisa kamu ajak main-main lagi. Kekasih, saya sudah sangat mempercayakan hati saya pada anda, bahkan anda tau sejak cerita dimulai perasaanku sudah sangat mencintaimu.

Saya mengadu pada semesta, dan jawaban yang semesta berikan padaku sebenarnya sangat mengejutkan. Dan setelahnya saya mengerti, mengapa sebelum kita beranjak ke bab selanjutnya tidak lagi saya temukan kehangatan dipelukanmu. Juga ketika jemari kita saling mengenggam, aku tau kalau ada yang berbeda,

Rupanya ada lain orang yang berhasil meluluhkan sebagian perasaan anda yang ternyata tidak pernah saya miliki. Ada lain orang yang berhasil kamu temukan sebagai rumah yang lebih hangat daripada rumahku. Ada orang lain yang mampu meruntuhkan segala bentuk kesepian dari dirimu, yang saya kira sudah tak ada lagi sejak anda bersamaku. Dan ada orang lain yang benar-benar anda cintai, orang itu bukan saya.

Kekasih, saya tau mungkin seharusnya kata kekasih sudah tak boleh lagi keluar dari mulutku. Tapi izinkan saya menuliskan beberapa perihal sebelum semuanya benar-benar usai.

Kekasih, sebenarnya saya ingin sekali memakimu bahkan mengucap beberapa kalimat kasar tapi saya urungkan segala niat tersebut. Karena mungkin letak kesalahannya tidak semua padamu. Mungkin ada beberapa kesalahan yang juga saya perbuat sampai-sampai kamu beranjak ke lain orang.

Kekasih, sejujurnya ini berat sekali. Saya mulai kesulitan berdiri sendiri untuk melanjutkan cerita. Saya kesulitan untuk mencoba terbiasa tanpa kehadiranmu. Saya juga mulai kesulitan dengan suara-suara tentang kamu yang sudah mampu menemukan bahagia seutuhnya pada sosok yang kamu cintai sedang saya disini bahkan sudah tidak tahu bagaimana bentuk hatiku.

Kekasih, saya harap paragraf ini adalah terakhir kalinya aku menyertakan perihal kamu kedalam kalimat. Saya mencintaimu, kekasih. Terima kasih sudah sempat menyertakan cerita bahagia di bab-bab sebelum kamu pergi. Terima kasih untuk sempat menjadikanku rumah, maaf apabila kamu tidak mendapatkan kenyamanan disana. Dan terima kasih untuk membiarkan kenangan terpatri diruang kepalaku yang nantinya akan aku kunjungi ketika rindu sudah sampai diujung tenggorokan.

Semesta, kamu tau bukan kalau ini bukan akhir cerita yang saya inginkan. Tapi saya mengerti mungkin ada rencana lain yang sedang kamu siapkan untukku juga. Mungkin juga ada bahagia yang menungguku diujung sana. Dan untuknya semesta, tetap jadikan ia manusia bahagia tanpa rasa kesepian. Tetap jadikan ia sebagai manusia yang dicintai dan menemukan kenyamanan dirumahnya yang bukan lagi aku.

Gagal.

Hai tuan,
Aku mengira kamu sudah melupakannya. Nyatanya pikiranku meleset kamu masih menyayangkan hal itu dan masih senang bercinta dengan kenangan masa lalumu.

Kelewatan memang,
Hampir dua setengah tahun rasa ini begitu pekat terhadapmu. Berharap lebih mendapatkan hati yang sudah jelas tidak pernah untukku.

Bodoh,
Aku terlalu dibutakan oleh perasaan ini. Seandainya kamu tau, aku selalu ada di belakangmu diantara puan-puan mengecewakan yang pernah singgah di hidupmu.

Tuan,
Sulit bagiku untuk melepaskanmu. Berjuta cara ku lakukan untuk pergi dari hidupmu tetap saja tidak mempan. Rasa ini terlalu besar.

Tapi tak apa,
Aku yakin sebentar lagi waktu yang akan memisahkan kita. Aku berharap, lambat laun rasa ini pudar karena kesibukan masing-masing kedepannya.

Tuan,
Jaga dirimu baik-baik ya. Semoga tak ada lagi puan yang mengecewakanmu selanjutnya. Aku ingin melihatmu bahagia (meski dari kejauhan). Kamu pantas untuk itu.

Setelah Berbincang

Pada malam-malam sebelumnya.
Mungkin kau merasa masih mampu untuk menahannya.
Menahan segala beban yang kau topang sendirian pada pundakmu.
Menahan segala perih yang terlanjur mendera dadamu.

Tapi, pada malam ini.
Jika kau telah tak mampu menahannya.
Biarkan segala beban mu luruh barang sejenak.
Biarkan segala luka nestapa mu reda barang sejemang.

Karna sejatinya, segala resah dan gundah perlu ruang untuk sekedar beristirahat.
Jangan anggap kau selalu kuat.
Meski akhirnya, kau pun akan kalah.
Pada waktu.

Di malam itu.
Setelah kau berbincang dengan Sang Semesta.
Sekedar sujud pada sajadahmu di sepertiga malam akhir.
Atau sekedar merapal doa di malam itu.
Menangislah, jika relung mu terlanjur sakit.
Menangis tak membuat mu terlihat lemah.

Jika kau tak bisa mengucap barang sekata pada kawan mu.
Mungkin menangis dan berdoa hanyalah salah satu solusi.
Disisi lain, percayalah.
Bahwa kau mampu melewati segalanya.

Kau kuat.
Kau tegar.
Kau sabar.
Dan, kau mampu atas segala ujian yang berat.

Percayalah, kau tidak sendiri.
Banyak yang ingin membantu sekedar menopang bebanmu dengan tulus.
Banyak yang ingin merangkul mu dengan ikhlas.
Pun, banyak yang ingin mendengar kan mu dengan sabar.

Di malam ini.
Jangan pernah merasa menyerah.
Segala nestapa tentang berat nya hidup.
Memang begini adanya.

Satu yang perlu kau pahami.
Kau mampu bertahan dan selalu kuat.
Melebihi apapun.

Berbahagialah Tuan

Izinkan saya kembali menuliskan tentang anda, kali ini. Entah ada angin apa, saya tetiba ingat dan ingin saja. Mungkin, karena tulisan yang berserakan di dashboard.

Sesungguhnya, saya tidak pernah benar-benar merelakan anda untuk orang lain, apalagi perempuan itu. Meski nada suaranya berkata bahwa ia teramat mencintaimu. Sungguh, saya pastikan hanya saya yang dengan lapang bisa menerima segala sikap dingin dan cuek anda itu.

Namun, lagi. Saya “terpaksa” menyerah pada keadaan dan inginnya semesta. Sebab restu dari perempuan yang sudah melahirkanmu tak bisa ku kantongi di saku bajuku. Pahit? Oh tentu. Saya rasa kisah cinta yang paling memilukan selain beda keyakinan, ialah tidak direstui.

Apa lagi? Bagi saya dikhianati sudah menjadi makanan, dan hati saya sudah terlatih untuk tak lagi sakit perihal itu. Hanya saja, kali ini berbeda. Selain dikhianati saya juga tak diinginkan oleh keluarga anda. Hati mana yang tak hancur lebur? Tak terkecuali saya.

Dan menuju penghujung Februari ini, saya masih terus bertanya apa yang salah dariku hingga sepanjang perjalanan saya belum bertemu dengan lelaki yang tak menyakiti. Lalu, semesta menjawab sebab saya mencari lelaki itu di dalam hubungan yang tak diridhoi-Nya. Jadi, sudah tentu saya hanya akan menerima kecewa.

Lalu ku janjikan diriku untuk tak lagi berada dalam hubungan yang demikian. Saya muak dan sadar. Selama apapun hubungan yang terjalin, entah jodoh ataupun tidak waktuku tetap akan terbuang dengan hal yang harusnya bisa digunakan untuk hal-hal baik lainnya.

Dan harusnya, kau tahu betapapun inginnya saya, saya bukanlah perempuan yang mudah untuk kembali memulai. Bukankah dulu sudah ku beritahukan hal ini padamu? Lalu, kenapa kau juga melakukan hal yang sama seperti yang terdahulu, bahkan jauh lebih menyeramkan dari yang dulu pernah saya ceritakan.

Atau mungkin anda lupa pada cerita pahit masa laluku? :“ aah apapun itu, saya tetap tak pernah bergerak barang seinci. Meski orang-orang bilang lupakan dan carilah. Tetap saja, hati saya beku pada satu nama.

Nanti, jika kau datang dengan segala perubahan dan penyesalan percayalah saya tak pernah kemana-mana, tapi mungkin hati saya sudah mati rasa untuk kembali mencintai anda. Itu saja. Cukup.

Mereka Telah Pergi

Ada rasa kecewa disetiap mereka pergi
orang-orang yang kukira akan menetap dihati
bahwasannya selalu akan kembali
tapi kenyataan bukan seperti ingin diri
dan mereka perlahan terganti.

aku membuat rumah, dan aku berharap mereka tinggali
dan sepertinya tak sesuai ekspetasi
mereka pergi tanpa menunggu persetujuan diri
aku menyerah bahwasannya hati sudah cukup disakiti.

ada kalanya kapal lelah dan memilih sandar dipelabuhan
Dan aku juga ingin sekali-kali merasa demikian
Bukan terombang-ambing di atas hubungan
Yang tak pernah berakhir bahagia.
aku ingin menjadi seseorang yang memang dibutuhkan.

aku mencintai kalian semua,
orang-orang pernah mencintaiku dengan cara yang berbeda-beda
Kalian adalah pelajaran yang sudah kutamatkan
Dan aku harap aku juga bab yang sudah kalian selesaikan

aku dan kalian semua adalah kenangan terindah
tanpa bekas luka yang sekarang tak lagi terasa
mengenal kalian yang dulu masing-masing punya cara bahagia
dan sekarang sudah bersama 'aku' yang memang ditakdirkan bersama.

Izinkan saya menuliskan tentang anda lagi

Berbicara tentang jarak dan waktu, membuat saya teringat perpisahan kita di minggu pagi itu.

hari itu adalah hari terakhir saya merasakan hangatnya pelukan anda walau hanya beberapa detik. saat itu kita masih kaku untuk berlama-lama dalam nikmatnya sentuhan.

Saya yang dulu, begitu yakin dengan pulangmu suatu hari nanti. tidak ada selintas curiga dalam benak saya yang mengatakan bahwa kau tidak akan kembali lagi dalam genggamanku. saat itu, yang saya pikirkan adalah kapan saya akan menunggumu kembali di bandara. sebegitu percayanya aku dengan kepulanganmu.

namun apa daya?
yang kini terjadi adalah kita tidak lebih dari sepasang pengecut waktu dan jarak. Anda yang tidak kuasa menahan rindu, memilih untuk mengakhiri cerita dari sana. Anda pergi di saat saya sedang semangat-semangatnya bertahan dan membuat saya merasa hingga hari ini, masih ada hal yang belum terselesaikan;
sebuah pertemuan.

Anda memilih untuk menyerah di saat saya sedang erat-eratnya menutup mata untuk tidak membaca kata itu. hingga akhirnya anda tinggalkan saya dengan cinta yang begitu hebat dan rindu yang tak dapat dipadamkan, pula kecewa yang tak dapat terbendungkan.
tapi tak apa, kurasa, kita memang punya hak untuk berhenti menyakiti diri sendiri— setidaknya itulah yang kutahu; bahwa merindukanku sama dengan menusuk dadamu.

Saya terlalu lugu saat itu untuk sadar bahwa jarak dan waktu nyatanya mampu meruntuhkan kedua insan yang sedang bertahan untuk tidak saling melepaskan.

ironis, bukan? tidak bisa berbuat apa-apa di saat keduanya sedang dibalut rindu— selain do'a yang terpanjatkan sepanjang hari. namun do'a adalah do'a dan yang kita butuhkan saat itu hanyalah selintas temu. ratus-ribu kilometer di antara kita, sejujurnya tidak pernah membuatku merasa jauh darimu karena aku mencintaimu tak berjarak.

ya, saya tahu. hanya memiliki cinta memang tidak akan pernah cukup, 'kan?

izinkan saya mengatakan "saya lelah berpura-pura tidak lagi mencintaimu."
Saya juga lelah menahan rindu namun mengapa saya tidak bisa menyerah juga seperti anda?

malam ini, di sini—
Saya masih menunggu anda pulang.
walau saya tahu kau sedang sibuk-sibuknya membangun rumah di sana—
bersamanya.