Senin, 25 Februari 2019

Berbahagialah Tuan

Izinkan saya kembali menuliskan tentang anda, kali ini. Entah ada angin apa, saya tetiba ingat dan ingin saja. Mungkin, karena tulisan yang berserakan di dashboard.

Sesungguhnya, saya tidak pernah benar-benar merelakan anda untuk orang lain, apalagi perempuan itu. Meski nada suaranya berkata bahwa ia teramat mencintaimu. Sungguh, saya pastikan hanya saya yang dengan lapang bisa menerima segala sikap dingin dan cuek anda itu.

Namun, lagi. Saya “terpaksa” menyerah pada keadaan dan inginnya semesta. Sebab restu dari perempuan yang sudah melahirkanmu tak bisa ku kantongi di saku bajuku. Pahit? Oh tentu. Saya rasa kisah cinta yang paling memilukan selain beda keyakinan, ialah tidak direstui.

Apa lagi? Bagi saya dikhianati sudah menjadi makanan, dan hati saya sudah terlatih untuk tak lagi sakit perihal itu. Hanya saja, kali ini berbeda. Selain dikhianati saya juga tak diinginkan oleh keluarga anda. Hati mana yang tak hancur lebur? Tak terkecuali saya.

Dan menuju penghujung Februari ini, saya masih terus bertanya apa yang salah dariku hingga sepanjang perjalanan saya belum bertemu dengan lelaki yang tak menyakiti. Lalu, semesta menjawab sebab saya mencari lelaki itu di dalam hubungan yang tak diridhoi-Nya. Jadi, sudah tentu saya hanya akan menerima kecewa.

Lalu ku janjikan diriku untuk tak lagi berada dalam hubungan yang demikian. Saya muak dan sadar. Selama apapun hubungan yang terjalin, entah jodoh ataupun tidak waktuku tetap akan terbuang dengan hal yang harusnya bisa digunakan untuk hal-hal baik lainnya.

Dan harusnya, kau tahu betapapun inginnya saya, saya bukanlah perempuan yang mudah untuk kembali memulai. Bukankah dulu sudah ku beritahukan hal ini padamu? Lalu, kenapa kau juga melakukan hal yang sama seperti yang terdahulu, bahkan jauh lebih menyeramkan dari yang dulu pernah saya ceritakan.

Atau mungkin anda lupa pada cerita pahit masa laluku? :“ aah apapun itu, saya tetap tak pernah bergerak barang seinci. Meski orang-orang bilang lupakan dan carilah. Tetap saja, hati saya beku pada satu nama.

Nanti, jika kau datang dengan segala perubahan dan penyesalan percayalah saya tak pernah kemana-mana, tapi mungkin hati saya sudah mati rasa untuk kembali mencintai anda. Itu saja. Cukup.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar